“Siapa yang tidak menganga saat melihat langsung bangunan Masjid Tiban ?” Bangunan yang besar dengan 10 tingkatan (lantai) dengan arsitektur yang nyentrik seperti bangunan bergaya Timur Tengah menghipnotis mata saya sejauh memandang. Konon katanya pembangunan Masjid ini dibangun oleh jin. “Percaya ?”

Masjid Tiban berada dalam komplek Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri’Asali Fadlaailir Rahmah di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang–Jawa Timur. Dinamakan ‘Tiban’ karena konon masjid ini ‘tiba-tiba’ ada.

Pintu gerbang masuk masjid

Pintu gerbang masuk masjid

Memasuki bangunan masjid Tiban

Memasuki bangunan masjid Tiban

Lantai 1 bangunan

Lantai 1 bangunan

Ketika saya bertanya pada warga setempat, ‘Pak apa benar dari yang saya dengar bahwa masjid ini dibangun oleh jin ?’ (*bapak tersebut tertawa). “Tidak benar itu mbak, masa dibangun sama jin, dibangun sama warga sekitar sini kok” jawab si Bapak. Fakta bahwa mitos pembangunan masjid oleh jin tidaklah benar. Masjid ini didirikan langsung oleh pemilik yang sekaligus pengasuh pondok pesantren yaitu KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al Mahbub Rahmat Alam, sering disebut dengan Romo Kyai Ahmad. Rintisan pembangunan masjid dimulai tahun 1963 dan pembangunan fisik dimulai tahun 1978 dengan material seadanya. Seiring pembangunan tersebut mulai ada santri yang menetap. Para santri pun turut serta dalam pembangunan. Pembangunan dilakukan tahap demi tahap. Tahun 1992, pembangunan masjid sempat terhenti. Pada akhir 1998 kembali diteruskan dan hingga saat ini.

Alam (banget)

Alam (banget)

Pembangunan masjid yang urung rampung

Pembangunan masjid yang urung usai

Pengecatan dinding

Pengecatan dinding (depan)

Dikutip dari situs ‘Ponpes Bibaafadlrah’, bangunan masjid yang dibangun oleh Romo Kyai Ahmad tanpa ada arsitektur maupun menyontek bangunan masjid lain. Beliau membangun masjid dengan dana sendiri tanpa meminta-minta, tidak ‘toma’ (mengharapkan pemberian orang), dan tidak meminjam. Saat pembangunan, beliau bahkan tidak punya uang seribu rupiah pun untuk jatah pembangunan. Namun ketika beliau punya niat untuk melaksanakan haji bersama keluarganya dan keinginan membangun mushola, keadaan menjadi berubah. Terlebih setelah beliau melaksanakan haji berkali-kali bersama keluarga, Allah menghadiahkan beliau pondok seperti sekarang ini. Jadi, menurut dhawuh beliau, pondok ini adalah pondok hadiah. Contoh, dalam perolehan tanah di sekitar pondok Romo Kyai dapatkan dari warga yang menawarkan tanahnya untuk dibeli oleh pondok. Mereka menawarkan berkali-kali bahkan rela menunggu agar tanahnya dibeli oleh pondok pesantren.

Masjid sekaligus pondok pesantren dengan 10 tingkatan ini, masing-masing memiliki tema berbeda. Lantai 1 terdapat beberapa pajangan akuarium yang cukup besar dan tempat penjualan souvenir. Lantai 2 hingga lantai 6 mata saya dimanjakan dengan arsitektur kaligrafi yang terpahat. Lantai 7 & 8 sebagai pusat perbelanjaan (studio foto, toko makanan ringan dan toko souvenir). Lantai 9 & 10 saya bisa melihat pemandangan di sekitaran kabupaten Malang dengan sajian warna hijau.

Halaman (samping) bangunan

Halaman samping (lantai 1) bangunan

Petunjuk arah

Petunjuk arah

Selfie dulu

Selfie dulu

Wisatawan bisa memasuki masjid tanpa dipungut biaya (free), hanya menyebutkan nama, tujuannya kemari dan asal lalu akan diberi secarik kertas sebagai tanda ijin masuk. Kertas tersebut nantinya diberikan kembali kepada petugas saat meninggalkan masjid. Seperti adab ketika bertamu saja, saat kunjungan ijin dahulu dan saat meninggalkan tempat maka berpamitan.

Rute menuju masjid tiban dari Stasiun Malang dapat ditempuh dengan angkutan umum jurusan AG (Arjosari-Gadang) dengan tarif 4 ribu, turun di terminal gadang. Kemudian dilanjutkan dengan menaiki COLT L300 (mini bus) dengan tarif 7 ribu, turun di pangkalan ojek (*bilang aja ke kondekturnya ke masjid tiban). Lalu naik ojek ke Masjid Tiban dengan tarif 10 ribu. Saya sarankan naik ojek saja, sebab kalo jalan jauh.

Sumber : http://ponpesbibaafadlrah.or.id