“Siapa yang tidak mengenal Lawang Sewu ?” Bangunan peninggalan jaman Belanda yang masih berdiri kokoh walau usianya telah usang dimakan waktu. Dinamakan ‘Lawang Sewu’ karena bangunan ini memiliki pintu yang berjumlah 928 buah. “Gak percaya ?” coba aja hitung sendiri. Agar memudahkan masyarakat dan pengunjung untuk mengingatnya maka bangunan tersebut dikenal dengan nama Lawang Sewu walaupun nyatanya pintu pada bangunan tidaklah genap berjumlah 1000 buah.

Lawang Sewu, Semarang

Lawang Sewu terletak di daerah Tugu Muda, Semarang-Jawa Tengah. Lokasi bangunan tepat di depan alun-alun kota Semarang. Museum ini buka mulai pukul 7.00 – 19.00 WIB dengan harga tiket masuk sebesar Rp10.000 (dewasa) dan Rp5.000 (pelajar). Pengunjung dapat memilih untuk memasuki museum dengan atau tanpa guide. Jika menggunakan guide pengunjung dikenakan tarif terpisah dari harga tiket yakni sebesar Rp30.000/orang atau rombongan (*lebih hemat).

Lawang Sewu, Semarang

Senyuman Teruntuk Lawang Sewu

Memasuki gerbang pintu masuk, di halaman Lawang Sewu terlihat adanya kereta api uap yang terparkir. Memberikan kesan pemanis pada halaman. Lawang Sewu terbagi menjadi 5 gedung terpisah yaitu bangunan A (exhibition centre), bangunan B (galeri & office area), bangunan C (museum), bangunan D (ruang tunggu) dan bangunan E (kantor pengelola).

Lawang Sewu, Semarang

Kereta Api Uap yang Terparkir di Halaman

Kereta Api Uap yang Terparkir di Halaman

Lawang Sewu dulunya adalah kantor pusat perusahaan kereta api swasta dikenal dengan nama ‘NIS’ (Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij) yang pertama kali membangun jalur kereta api di Indonesia menghubungkan Semarang dengan Yogyakarta tahun 1867. Pembangunan kantor perkeretapian dimulai dari Februari 1904 hingga Juli 1907. Juli 1907 digunakan sebagai kantor NIS. Tahun 1942-1945 digunakan sebagai kantor Riyuku Sokyuku (jawatan transportasi Jepang). Tahun 1945 menjadi kantor DKRI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia). Tahun 1948 saat terjadi agresi militer digunakan sebagai markas tentara Belanda. Tahun 1949 digunakan oleh Kodam IV Diponegoro. Tahun 1994 gedung diserahkan kembali kepada kereta api (saat itu PERUMKA sekarang menjadi PT. KAI). Kemudian, beberapa tahun digunakan oleh dinas perhubungan. Mulai tahun 2009 dilakukan pemugaran oleh PT. KAI (Persero). Begitulah sejarah singkatnya bagunan Lawang Sewu ini.

Memasuki bangunan, saya melihat pajangan poster berbingkai kayu yang menceritakan sejarah pembuatan jalur kereta api. Foto pimpinan dan staff Belanda beserta para pekerja pribumi, foto hitam putih stasiun dan jalur kereta api, replika jembatan Lembah Anai Sumatera Barat, miniatur lokomotif kereta api, telepon dan tiket kereta jaman dulu, lemari kunci, hingga pakaian pegawai kereta api dari yang terdahulu hingga kekinian semuanya ada di sini. Disamping itu, konon bangunan Lawang Sewu menyimpan sebuah misteri. Adanya penjara bawah tanah yang dulu digunakan saat jaman Pemerintahan Belanda. Tempat tersebut pernah dijadikan ajang uji nyali salah satu stasiun televisi swasta. Tidak usah dipikirkan hal tersebut, yang namanya tempat bersejarah pasti ada saja misteri yang tersimpan.

Pemimpin dan Staff Belanda

Pemimpin dan Staff Pemerintahan Belanda

Pekerja di Lawang Sewu (Pemimpin dan Staff Belanda serta Pekerja Pribumi)

Pemimpin dan Staff Belanda serta Pekerja Pribumi

Foto Pembangunan Jalur Kereta Api

Foto Pembangunan Jalur Kereta Api

Lawang Sewu, Semarang

Tiket Tempo Dulu

Seragam Masinis Tempo Dulu dan Sekarang

Seragam Tempo Dulu dan Sekarang

Ruang Bawah Tanah

Ruang Bawah Tanah

Balik lagi pada jalurnya. Bangunan dominan putih bercorak kuning menambah keindahan dan kekhasan tempat ini. Cocok untuk sesi foto prewed nih. Peninggalan-peningalan yang seperti ini mesti dipelihara guna mengenalkan sejarah pada anak cucu kita (*tsah bahasanya).

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah Periode 2.

Lomba Blog Periode 2 Visit Jawa Tengah