Tana Toraja, kaya akan budaya yang kental dengan upacara adat. Siapa yang tidak tahu, Tana Toraja? Upacara adat khas menjadi daya tarik wisata popular di Propinsi Sulawesi Selatan. Untuk dapat menuju tempat tersebut, memakan waktu perjalanan darat sepuluh jam dari Bandara Sultan Hasanudin. Yah beginilah, perlu pengorbanan untuk menikmati keindahan dan budaya suku Toraja yang berada di Pegunungan. Kebudayaan unik terlihat dari rumah masyarakat Toraja yang terkenal dengan “Rumah Tongkonan”, upacara pemakaman Rambu Solo, pekuburan Gua Londa (Londa Grave), pekuburan Gua Lemo (Lemo Grave), pekuburan Bayi (Baby Grave) dan Kete Kesu.

Masyarakat Toraja sangat kuat dengan kepercayaan, aturan dan ritual tradisi yang diwariskan oleh leluhur. Mayoritas memeluk agama Protestan atau Katolik dengan matapencaharian sebagai petani. Setiap orang rata-rata yang berumah Tongkonan ataupun rumah modern, memiliki lumbung padi untuk menyimpan hasil panen. Bangunan lumbung padi menyerupai bentuk rumah Tongkonan, akan tetapi berbentuk kecil.

Suku Toraja, kalo diperhatikan sebagian besar masyarakatnya berada. Hal tersebut dapat dilihat dari upacara pemakaman. Prosesi pernikahan dan pemakaman, lebih banyak menggelontorkan biaya di upacara pemakaman yang dikenal dengan sebutan upacara “Rambu Solo”. Nah loh, kok bisa?

Upacara Rambu Solo diselenggarakan dengan biaya ratusan juta rupiah. Dalam upacara pemakaman ini, keluarga harus memenuhi beberapa syarat dan pendukung. Salah satu persyaratan dalam menyelenggarakan Rambu Solo adalah hewan kurban berupa kerbau dan babi. Kerbau merupakan hewan yang dianggap suci. Menurut keyakinan masyarakat Toraja, hewan kurban tersebut akan mengantarkan arwah orang yang meninggal ke tempatnya (Re: Puya/Surga). Semakin banyak hewan kurban yang diberikan maka semakin cepat arwah tersebut sampai ke Puya.

Kerbau yang dikurbankan bukan jenis kerbau sembarangan. Ada spesifikasi jenis kerbau tertentu untuk upacara. Kerbau bule belang untuk keturunan bangsawan dan kerbau hitam untuk non bangsawan. Harga satu ekor kerbau bule berkisar ≥ 300juta sedangkan kerbau hitam berkisar harga ≥ 20 juta. Harga bisa lebih tinggi lagi karena tanduk kerbau, ukuran tubuh (besar-kecil), belang di bagian tubuh serta pusar kepala pun diperhatikan sedemikian rupa.

DSCF0730

Kerbau Bule Belang

Jumlah kerbau yang dikurbankan tergantung strata sosial keluarga yang berduka. Semakin tinggi strata sosial, jumlah kerbau yang dikurbankan semakin banyak. Golongan atas minimum 24 ekor kerbau, golongan menengah ± 10 ekor kerbau dan babi ± 20 ekor. Hewan kurban tersebut diarak mengelilingi desa sebagai bentuk penghormatan. Tak heran, masyarakat toraja dibilang masyarakat berada. Terlihat dari upacara adat yang mecapai milyaran rupiah.

Persyaratan pendukung lainnya dalam upacara Rambu Solo yaitu pernak pernik tandu dan peti mayat. Dalam peti, dimasukkan berbagai barang sebagai bekal perjalanan. Mulai dari pakaian, perhiasan hingga barang kesayangan. Setelah melewati prosesi upacara adat, mayat dibawa ke dinding tebing untuk dimakamkan.

DSCF0563

Tandu Mayat

DSCF0591

Pemakaman atau pekuburan di Tana Toraja yang telah disebutkan di atas terdiri dari Londa Grave, Lemo Grave dan Baby Grave. Berdasarkan informasi, Londa Grave merupakan pekuburan dalam gua alami. Gua yang telah berumur ratusan tahun dan masih digunakan hingga saat ini. Gua Londa memiliki panjang ± 1 km dimana mayat ditempatkan atas beberapa tingkat sesuai dengan strata sosial orang yang dimakamkan. Dalam gua Londa dipenuhi dengan tengkorak dan tulang belulang dari orang-orang yang dikuburkan. Tau-tau pada bagian depan gua merupakan patung mayat yang dikuburkan dalam gua. Patung tersebut dibuat oleh masyarakat Toraja sendiri. Informasi dari warga setempat yang menjadi pemandu kami saat masuk ke dalam gua, pembuatan Tau-tau tersebut memiliki syarat yaitu pengorbanan kerbau minimal 24 ekor.

DSCF0551

Gerbang Menuju Gua Londa

DSCF0568[1]

Memasuki Gua Londa

DSCF0559
Tau-tau (*lingkaran merah)

Di atas punggung gua terdapat benteng pertahanan yang bernama “Tarangege”. Pada masa lalu, orang yang berkunjung ke kompleks pemakaman wajib memohon izin dengan membawa sirih, pinang, atau kembang. Selain itu, sangat tabu bagi pengunjung untuk memindahkan atau mengambil tulang belulang, tengkorak, jenazah atau benda lainnya yang ada di dalam gua. Daya tarik utama dari gua Londa ini adalah gua alam, erong, Tau-tau dan kuburan gantung. Kenapa dinamakan kuburan gantung? Karena dulu terdapat banyak binatang buas berkeliaran sehingga mayat dikuburkan dengan cara digantung agar aman.

DSCF0562

DSCF0583

DSCF0594[1]

Peti yang berada di Londa ada yang berumur ratusan tahun. Satu peti dulu dijadikan untuk satu kuburan dalam satu keluarga. Jadi, mayat yang sudah tinggal tulang belulang ditumpuk dalam satu peti. Karena yang dikubur di Londa hanya satu garis keturunan atau marga. Marga tersebut ialah “Tolengke”. Jika lain marga maka tidak bisa dikuburkan di sini. Pada umumnya di Toraja, warga memiliki kuburannya masing-masing.

DSCF0573[1]

DSCF0585[1]

DSCF0589[1]

Warga Setempat Sebagai Pemandu (*Ujung Kanam)

Anehnya mayat yang sudah berumur puluhan bahkan sampe lebih dari seratus tahun masih utuh. Kok bisa ya? bukannya semalam saja sudah timbul bau. Mayat yang masih utuh dikarenakan pemberian bahan pengawet kimia berupa formalin (modern) dan secara tradisional (dahulu) hanya diberikan berupa daun-daun dan agar yang ditumbuk.

Untuk keluarga yang tidak mampu maka mayat disimpan di rumah dahulu sebelum di makamkan hingga memiliki biaya untuk melakukan upacara adat. Keberadaan peti yang digantung menunjukkan strata sosial keluarga yang ditinggalkan. Semakin atas peti digantung maka status keluarga tersebut semakin tinggi (re: bangsawan).

Pasti kamu bertanya-tanya, bagaimana cara menaikkan peti di tempat yang tinggi? Petinya kan berat?  Berapa orang yang angkat tuh? Nah loh. Cara menaikkan peti di tempat tinggi dengan menggunakan tali dan batang bambu untuk memanjatnya. Keluarga dan warga saling membantu untuk mengangkat peti. Mungkin ini juga salah satunya kenapa upacara kematian biayanya mahal. Karena butuh banyak tenaga untuk mengangkat peti ke atas tebing sehingga membuat orang kelelahan yang berakhir lapar dan haus hehehe. Selain itu, mungkin faktor transportasi untuk arak-arakan upacara dan pembuatan pondokan yang memakan waktu 2-3 bulan.

Pernah dengar gak kamu, di Toraja ada mayat yang dibangkitkan kembali dalam suatu upacara? Dan ternyata benar loh adanya. Dulu, transportasi susah terlebih yang rumahnya jauh dengan tempat mayat akan dikubur. Mayat tersebut dibantu dengan pawang (re: ketua adat) sehingga bisa jalan namun tidak bisa ditegur. Jika ditegur mayat akan jatuh kembali.

Jika kamu ke Londa jangan heran ya kalo banyak botol minuman, rokok,  bunga dan uang yang berserakan. Kenapa? Karena itu adalah sesajen yang dibawa oleh keluarga untuk berziarah. Ada kisah yang terkenal di sini juga loh yaitu kisah “Romeo and Juliet” versi Toraja dimana pacaran hendak menikah tetapi tidak direstui karena masih satu garis keturunan atau marga. Kejadiannya tahun 1972, mereka gantung diri bersama-sama di samping rumahnya dan yang tertinggal di gua hanya tengkorak kepala. Romeonya bernama Lobo dan Juliet bernama Andu’i.

DSCF0580

Rokok, Salah Satu Sesajen yang Diberikan Oleh Keluarga Saat Berziarah

DSCF0579[1]

Gua Romeo-Juliette Berada

Lemo Grave sama halnya dengan Londa Grave merupakan pekuburan dalam gua alami. Bedanya, pada Lemo Grave dinding tebing untuk memasukkan mayat tidak alami dengan kata lain tebing batu dipahat berbentuk persegi sehingga terlihat lebih rapi dibandingkan di Londa. Pemahatnya dilakukan oleh warga sekitar. Selain pekuburan, di sini juga menjual miniatur Tau-tau dan kain. Harganya bervariasi tergantung ukuran. Tau-tau dan kain mulai dari puluhan ribu sampai ratusan ribu bahkan ada yang mencapai jutaan.

DSCF0610

DSCF0644

 

DSCF0619

DSCF0623 (B)

DSCF0630

Tau-tau Mini

DSCF0635

Tau-tau Besar

 

20171101_102623[1]

Kain Motif Gajah Seharga Rp7.000.000

Baby Grave merupakan pekuburan bayi berbentuk pohon. Bayi yang dikuburkan memiliki kriteria yakni bayi yang belum tumbuh gigi. Kenapa begitu? Karena bayi yang belum tumbuh gigi dianggap suci. Hanya terdapat satu pohon di lokasi ini.Selebihnya tidak ada apa-apa.

DSCF0650

DSCF0651 (1)

Pohon Baby Grave

Sebagai informasi, untuk pemakaman dalam gua Londa dan Lemo diperuntukan hanya untuk satu marga. Nah, kalo marganya berbeda dikubur dimana? Tetap, dikubur di tebing yang berbatu dengan lokasi yang berbeda seperti di Lokomata daerah Batutumorang. Keluarga yang ingin membersikan makam dikenal dengan sebutan “Ma’nene”, tetap dilakukan melalui upacara dengan mengkurbankan hewan kerbau dan babi. Membersihkan atau mengganti peti jenazah dengan yang baru serta menggantikan pakaian dengan yang baru dilakukan setiap setahun sekali bagi yang mampu. Khusus di Londa, ritual Ma’nene diselenggarakan setiap tiga tahun sekali.

DSCF0804

Pekuburan di Daerah Lokomata

Pekuburan lainnya terakhir yaitu Kete Kesu. Kete Kesu sama halnya dengan pekuburan lainnya dimana jenazah dikuburkan di dalam gua. Namun gua tersebut, terkunci sehingga tidak dapat dimasuki. Bagian unik dari Kete Kesu adalah pekuburan berbentuk seperti bedug masjid dengan bangunan berupa Tongkonan.

DSCF0657

Kete Kesu

DSCF0708

Makam yang Berbentuk Menyerupai Bedug

20171101_135323

DSCF0711

Bagi wisatawan yang ingin memiliki cinderamata khas Tana Toraja, di sinilah pusatnya. Mulai dari miniatur rumah Tongkonan, miniatur lumbung padi, Tau-tau, baju, kain, sarung, dompet, tas, golok, gantungan kunci, tempelan kulkas, aksesoris dan dekorasi ruangan tersedia. Harga cinderamata di Toraja jauh lebih murah dibandingkan beli di Kota. Jadi, jangan lewatkan untuk mampir ke Kete Kesu.

DSCF0673

Ikat Kepala

DSCF0672

DSCF0696

Next, chapter di Jilid 2 ya. Happy reading ^^