Beralih dari budaya, kini kita tengok sisi lain dari Toraja. Apa sih sisi lain dari Toraja selain yang dikenal dengan upacara adatnya?  Yak, sisi lain dari Toraja adalah objek wisatanya. Melihat sunrise di daerah Batutumonga, mengunjungi situs purbakala Bori Kalimbuang, menapak tilasi rumah Tongkonan tertua di Toraja dan melihat patung Yesus di Buntu Burake.

Sunrise di Batutumonga terkenal indah dengan kabut awan yang menyelimuti daratan seolah-olah berada di atas awan. Udara dingin dan mata masih mengantuk memaksa aku dan suami harus bangun untuk melihat sunrise. Jauh-jauh sepuluh jam dari kota kalo tidak jalan dengan ajakan melihat sunrise rasanya disayangkan. Start dari penginapan pukul 04.40 WITA dengan lama tempuh perjalanan ± 1 jam.

Selama perjalanan, terlihat cahaya menyembul perlahan menampakan warna dengan kemayu. Awan berarak naik menutupi dataran. Tiba di puncak Batutumonga, benar-benar pemandangan yang memanjakan visual. Keterlambatan tiba, membuat kami tak dapat menyaksikan keindahan sunrise. Sebagai gantinya, melihat keindahan awan menyelimuti pemukiman layaknya negeri di atas awan. Dingin yang menerpa paling enak kalo bobo manja bersama suami ena ena. Jangan iri yang belum punya suami/istri ya hehehe. Menyeruput teh hangat dan semangkuk indomie mengurangi dinginnya udara.DSCF0765

DSCF0784

DSCF0783

DSCF0795

Tak jauh dari Batutumonga, ada situs purbakala Bori Kalimbuang yang berada di Kecamatan Sesean. Objek wisata ini merupakan sebuah rante, tempat pelaksanaan upacara adat pemakaman tingkat tinggi bagi orang Toraja. Di lokasi ini terdapat 102 buah menhir (simbuang batu) yang berdiri tegak sebagai penanda dari setiap upacara pemakaman yang diadakan di areal rante. Meskipun ukurannya berbeda, menhir-menhir tersebut memiliki nilai adat yang sama. Menhir atau simbuang batu hanya dapat dipasang apabila ada seorang pemuka masyarakat yang meninggal dan di upacarakan secara adat dalam tingkat Rapasa Sapurandan (kerbau yang dipotong minimal 24 ekor).

DSCF0805

Gerbang Situs Purbakala Kalimbuang Bori

DSCF0813

DSCF0818

Rante Kalimbuang mulai digunakan untuk upacara pemakaman pada tahun 1617 dan tetap dipakai sampai saat ini. Tidak jauh dari tempat tersebut, terdapat juga kuburan pahat (liang paa) dan tau-tau. Namun ketika dilakukan pemugaran tahun 1992 tau-tau yang ada di Bori, hilang dicuri. Pada area dibelakang rante juga terdapat pekuburan bayi (passilliran pia) dalam pohon yang masih hidup. Daya tarik utama dari objek wisata ini adalah rante, simbuang batu dan passilliran pia.

DSCF0822

DSCF0833

Ada juga Rumah Tongkonan tertua yang tak jauh dari deretan objek wisata lainnya. Tongkonan tertua telah ada dari tahun 1880-an yang dahulu berada di atas bukit. Pemindahan Tongkonan dilakukan dengan cara bongkar pasang. Keturunan yang mendiami Tongkonan tertua dari Siambepo Maramba ialah keturunan kelima. Siambepo Maramba merupakah tokoh masyarakat Toraja yang cukup terkenal. Meninggal di Ambon karena diasingkan pada masa Belanda. Di bawa dari Toraja terus ke Batavia kemudian ke Surabaya dan terakhir di Ambon. Di Ambon mayatnya dibawa kembali ke Toraja dan di upacarakan. Upacara tersebut bisa dilihat di channel YouTube ‘Upacara Toraja tahun 1920’. Makamnya terletak di atas (re: bukit) Rumah Tongkonan. Makam pertama yang terbuat dari tembok di Toraja yang dikenal dengan istilah ‘Patane’. Di dalamnya tembok model khas kolonial yang terdapat pecahan kaca.

DSCF0749

Keturunan Kelima Pemilik Rumah Tongkonan Tertua di Toraja

DSCF0756

Rumah Tongkonan tertua di Toraja

Tahun 1970-an saat baru diresmikannya pariwisata di Toraja oleh Pemerintah, patung yang ada di dalam ‘Patane’ dikeluarkan. Karena banyak tindakan vandalisme maka patung tersebut dimasukkan kembali. Bukit tempat Patane tersebut masih digunakan hingga saat ini sebagai makam keluarga besar.

Rumah Tongkonan tertua sering dilakukan pemugaran khusunya di bagian atapnya minimal 2-5 tahun sekali. Bagunan tersebut hingga sekarang masih milik pribadi bukan milik Pemerintah. Memang semua yang masuk situs cagar budaya ialah milik Negara. Namun tidak di Toraja, hampir semua situs cagar budaya milik keluarga dan Pemerintah hanya mitra untuk membantu memperkenalkan cagar budaya. Jika menaiki bukit di atas Tongkonan akan terlihat tugu salib yang berada di Rantepao. Selain itu, ada benteng pertahanan tradisional yang dulu berada di atas. Saat jaman kolonial Belanda masuk ke Toraja tahun 1905 ada perang lokal antar wilayah adat yang dikenal dengan nama ‘Perang Kopi’. Perseteruan yang terjadi sebenarnya bukan orang Toraja langsung tetapi pedagang-pedagang Bugis yang berusaha bekerjasama dengan penguasa adat yang menjadi pusat perdagangan kopi. Kopi yang menjadi minuman khas sebagai oleh-oleh yaitu ‘Kopi Toraja’.

DSCF0764

Ternyata untuk membangun rumah Tongkonan asli harus memiliki tujuh syarat di antaranya rumah adat memiliki lumbung padi, memiliki tempat makam, memiliki ‘rante’ (lapangan upacara adat), memiliki hutan adat, memiliki sawah adat, memiliki tempat pengembalaan dan rumah Tongkonan menghadap Utara (sumber mata air).  Sawah adat yang dimiliki oleh rumah Tongkonan tertua ini berada di di bagian bawah Rantepao samapai ke Kete Kesu sebagian besar masih lahan di sini dan masih ada di wilayah adat lain di luar lokasi. Lapangan upacara untuk keturunan keluarga pemilik Tongkonan tertua berada di Rantekarasik sekitar 1 km. Tapi awalnya ‘rante’ tuanya berada di Kodim 141 Rantepao yang sekarang digunakan sebagai lokasi latihan dan asrama Kodim.

DSCF0760

Lumbung Padi. Bagian Atas untuk Menyimpan Hasil Panen dan Bagian Bawah untuk Menerima Tamu. Dibuat Tinggi Agar Hasil Panen Tidak dimakan Oleh Tikus dan Hewan Lainnya

Ukuran bangunan Tongkonan tergantung pada letak geografis. Bagian atas agak rendah, di bagian Toraja Barat tidak setinggi dengan yang ada di rumah Tongkonan tertua dan struktur tanah yang miring juga mengikikuti arah hulu sungai. Jadi, jika tidak memungkinkan Tongkonan menghadap Utara biasanya arah hadap Tongkonan mengikuti sumber mata air.

Usai dari rumah Tongkonan tertua, aku balik kanan menuju hotel kembali. Sarapan, istirahat sejanak dan mandi. Sekitaran pukul 10:30 WITA kami melanjutkan perjalanan menuju Bulukumba. Tak lupa kami pun mampir ke Patung Yesus yang berada di Buntu Burake. Patung Yesus di bangun di atas bukit seperti layaknya yang berada di Brazil. Dilihat dari segi ukuran, besarnya aku enggak tahu. Tapi dilihat dari dekat ya besar menjulang tinggi.

DSCF0853

Pembangunan untuk akses jalan utam masih dalam proses pengerjaan sedangkan akses jalan bagian kiri (utama) sudah bisa di lalui. Objek wisata ini sudah dibuka untuk umum namun belum diresmikan oleh Pemerintah. Sebelum adanya akses jalan yang lebar (bagian depan kiri), ada jalan setapak berupa anak tangga sudah dibuat dari bawah menuju atas. Mobil di parkirkan di bawah lalu wisatawan berjalan kaki untuk menuju patung Yesus.

DSCF0855

Akses Jalan Bagian Kiri (Jalan Utama)

Ketika sampai atas tepat di Patung Yesus, untuk mendapatkan foto yang pas kami harus munuruni anak tangga yang mencapai >100 anak tangga. Kalo menuruni anak tangga mah sepele, lah naiknya itu lumayan menguras tenaga. Sebentar-sebentar aku meminta suami berhenti untuk tarik napas lalu berjalan naik kembali. Mau dapat foto aja perlu tenaga huft. Sebagai informasi, di Bulan Desember nanti Patung Yesus ini akan diresmikan oleh bapak Presiden kita yakni Bapak Joko Widodo.

DSCF0851

Tak usah berlama-lama karena mengingat perjalanan kami masih panjang akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Bulukumba. Ada apa sih di Bulukumba? Penasaran kah kalian hmmm. Next chapter akan diulas. Happy reading ^^