Sumatera Utara

MENGINJAKKAN KAKI DI TANAH DELI (SILAHTURAHMI KE CALON KAKAK IPAR)

Melalui proses panjang dari membawa pacar ke rumah untuk dikenalkan dengan keluarga hingga keluarga berkunjung ke rumah orangtua si pacar tapi berujung putus di jalan. Si anak yang udah demen tapi orangtua kurang interest. Si orangtua sudah interest tapi anak belum ada jodohnya. Singkat cerita begitulah yang dialami oleh Kakak-ku.

Sebagai Adik, apapun pilihan Kakaknya akan mendukung selagi orangtua pun interest dan merestui. Melalui pecakapan via telp, dulu Mamah pernah bilang begini ke Aa “udah umur segini kapan nikah? Pacar yang dibawa ke rumah tapi enggak ada yang jadi melulu”. Lantas Aa jawab “daripada putus setelah nikah?” heninglah sesaat. Begitulah perjalanan, mana ada yang tahu nanti jodoh dipertemukan dengan siapa.  Sebagai insan manusia yang memiliki pikiran, mencari yang terbaik dari yang baik.

Penantian yang panjang akhirnya telah diputuskan oleh Aa, “siapa yang akan menjadi pelabuhan terakhirnya?” ((tebak bait lagu siapa?)). Ia adalah Tika Anggraeni. Wanita perpaduan Jawa-Medan, Asli Jawa namun hijrah ke Medan. Ia adalah Adik kelas Aa semasa kuliah dulu. Beda satu tahun lebih muda umurnya.

Satu bulan sebelum keberangkatan, tiket sudah dibeli untuk empat orang yakni Mamah, Aku, Aa dan Calonnya. Bapak berhalangan hadir dikarenakan adanya pekerjaan.  Awalnya Mamah enggak mau ikut, hanya Aa bersama calonnya saja. Tapi, Aa minta perwakilan untuk mendampinginya. Berangkatlah kita di tanggal 22 April 2017. By the way, ini perjalanan pertama kami (Aku, Mamah, Aa) menggunakan pesawat loh 😉

Kota Medan, menjadi tujuan silahturahmi ke Keluarga calon Kakak Ipar. Pertama kali juga aku menginjakan kaki di tanah Sumatera. Excited bercampur deg degan karena pertama kalinya naik pesawat. Pikiran sudah ke mana-mana karena banyak pemberitaan kecelakaan mengenai pesawat yang aku naiki. Apa yang bisa dilakukan hanyalah pasrah dan berdoa. Dari jam keberangkatan pukul 09.50 WIB pesawat pun lepas landas pukul 10:20 WIB. Inilah momen dimana kami ber-wifi sebelum take off (dalam hati dag dig dug).

Dua jam berada di atas awan, akhirnya kami pun tiba di Bandara Kualanamu. Alhamdulillah puji syukur mendarat dengan sempurna. Perjalanan pun dilanjutkan kurang lebih satu jam setengah menuju rumah Keluarga calon Kakak Ipar. Jika jalanan lancar satu jam bisa ditempuh. Dengan angkutan berbasis online, kami pun melaju. Setibanya di rumah pukul 14:30 WIB, kami disambut dengan ramah oleh orangtua dan sepupu Kak Tika (si calon mantu Mamah). Disajikan masakan rendang, sambal goreng kentang, urap dan segelas sirup dingin. Maknyos! pas banget karena cacing di dalam perut sudah merongrong.

Usai makan, kami diarahakan ke kamar untuk beristirahat sejenak dan shalat. Sorenya datanglah Paman dan Budenya Kak Tika beserta Keluarga. Bersilahturahmi saling mengenal satu sama lain dan membahas inti pokoknya. Alhamdulillah kedatangan dan maksud kami diterima dengan baik. Dan untuk seterusnya dilanjutkan oleh Aa dan Ka Tika untuk mengurus lain-lainnya.

Esok hari, hari yang aku tunggu-tunggu apalagi kalo bukan jalan-jalan. Ibarat pepatah, sambil menyelam minum air, awas kelelep hehehe. Karena, waktu yang terbatas jalan-jalannya ke tempat yang terdekat saja yakni Istana Maimun, Museum Tjong A Fie, Masjid Raya Al-Mashun dan Kuliner. Padahal aku pengen banget ke daerah Samosir lihat keindahan Danau Toba. Tapi apalah daya, jaraknya 4-5 jam dari rumah. Jauh juga ya.

Hari itu pun datang, hari ke-2 saatnya jalan-jalan. Destinasi pertama yang dikunjungi ialah Istana Maimun. Sedikit kecewa saat itu, wisatawan tidak bisa masuk ke dalam istana dikarenakan adanya acara yang diselenggarakan oleh Keluarga Kerajaan. Akhirnya aku hanya bisa melihat bangunan dari luar dan mengabadikanya. Masuk ke sini aku hanya bayar biaya parkir sebesar Rp5.000 tapi tidak tahu kalo masuk ke Istananya bayar lagi atau tidak. Eh tapi ada satu bangunan yang dibuka, bukan Istana melainkan bangunan yang di sampingnya. Tertulis Meriam Puntung. Akhirnya aku enggak begitu kecewa dan sia-sia ke sini sebab ada cerita yang bisa ditulis. Sedikit informasi mengenai sejarah Meriam Puntung dari penjaga Istana:

Kerajaan Putri Hijau pada waktu kejadian tahun 1612 dimana Kesultanan Deli belum berdiri. Kerajaan awal berdiri bernama Kerajaan Haru yang terletak di Deli Tua. Raja tersebut memiliki tiga orang anak. Anak pertama adalah Mangbang Yajid, anak kedua Putri Hijau dan anak ketiga Si Mangbang Kayali. Putri Hijau hendak dipersunting oleh Sultan Aceh akan tetapi, Putri Hijau menolak dan akhirnya memicu terjadinya perang. Dalam peperangan tersebut Kerajaan Putri kalah. Bersumpahlah Putri Bungsu bernama Si Mangbang Kayali menjelma atau menyatu kekuatannya ke meriam ini. Akhirnya meriam panas, merah dan pecah. Ujung meriam mental ke daerah Suka Nalu dataran tinggi Karo.

Singkat cerita, kalahlah Kerajaan Putri dan dibawalah Putri Hijau dengan syarat bertih, telur dan peti atau keranda kaca. Putri pun dibawa pergi melalui laut bertih bersama telur. Dalam perjalanan munculah seekor naga. Si naga tersebut adalah Abangnya yang sulung yakni Mangbang Yajid. Akhirnya Putri dan Abangnya hilang atau raib di laut. Potongan meriam tersebut berada di Istana berpindah dari tempat Prambe Dua sebelumnya karena yang menaklukan Kerajaan Haru bernama Goca Pahlawan.

Beliaulah cikal bakal Sultan Deli yang pertama dan yang menaklukan Kerajaan Haru Putri Hijau. Istana Deli sudah mengalami lima kali perpindahan, dimana Istana Deli pindah maka ikutlah pindah meriam tersebut sebagai penghormatan dan kenangan dalam perang. Terlihat adanya bunga yang merupakan tradisi. Bagi yang meyakininya, ada seorang yang bernazar. Setelah terkabul nazar tersebut dibayarlah berupa buah dan bunga bale. Air yang dimangkok tersebut sebagai syarat. Apabila kita punya niat, air tersebut boleh disentuh dengan membaca Al-Fatihah lalu basuhkan ke meriam dan wajah. Tempelkan telinga kanan pada Meriam Puntung. Berbagai suara terdengar mulai dari suara arus air, suara ledakan bahkan suara saat suasana peperangan bisa terdengar.

20170423_090302

Silau

Jadwal buka istana maimun

Jadwal Berkunjung Istana

20170423_091533

Abaikan Bokongku yang Nonggeng

Usai dari Istana Maimun beranjaklah kita menuju Museum Tjong A Fie yang letaknya tidak jauh dari sini. “Ada apa aja ya di Museum ini? Yuk kita lihat”. Untuk bisa memasuki Museum ini, pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp35.000/orang. Tarif yang cukup mahal untuk sekedar masuk ke museum ini. Akan ada guide yang memandu selama penelusuran Museum ini.

Tiket museum tjong a fie

MCA

Tampak Luar Museum Tjong A Fie

Berikut sekilas kenangan pada mendiang jutawan Tjong A Fie yang ditulis oleh H. Mohammad Said dalam kertas yang terbingkai di Museum:

Tjong A Fie merupakan seorang jutawan dari China yang terkenal dermawan. Ia seorang perantau dari tanah kelahirannya Kwang Tung. Tahun 1880, di Deli terdapat perkebunan besar milik asing yang memberikan lahan pekerjaan kepada masyarakat. Dahulu Ibukota Kerajaan Deli terletak di Labuhan. Kota yang menjadi tempat singgah perahu maupun kapal serta sarana lintas Ekspor dan Impor komoditi. Labuhan sebagai tempat administrasi petugas Belanda yang tak lama kemudian memindahkan Ibukota dari Bengkalis menjadi Ibukota Karasidenan yang dipindahkan dari Riau.

Mulanya belum ada seorang warga China yang berdiam di Deli. Tetapi, karena perkebunan tembakau memerlukan tenaga ulet dan tahan banting maka pengusaha perkebunan mendatangkan warga China dari Penang dengan jumlah tertentu yang diperuntukkan kerja berat dan kasar sehingga Medan dipenuhi warga China saat itu. Pekerja China yang tidak mengerti bahasa Melayu, mau tidak mau pengusaha perkebunan membutuhkan seseorang yang bisa menjadi perantara komunikasi. Kebetulan perantau China bernama Tjong Jong Hian Kakak kandung dari Tjong A Fie sudah lebih dulu sukses sebagai orang pendatang yang memiliki kecerdasan. Karena itulah tahun 1878 Tjong Jong Hian diangkat oleh Pemerintah Belanda menjadi kepala warga China.

Dua tahun kemudian Tjong Jong Hian memberikan surat kepada Adiknya Tjong A Fie. Isi surat tersebut mengatakan, “Apabila kamu susah hidup di negeri sendiri maka datanglah ke Tanah Deli”.  Tjong A Fie pun berangkat beberapa tahun kemudian dengan uang yang telah dikumpulkannya. Tiba di Labuhan, usia Tjong A Fie saat itu menginjak 20 tahun (lahir 12 Agustus 1860). Tjong A Fie memulai karirnya dari bawah tidak serta merta mendapatkan posisi yang bagus seperti Kakak-nya.

Karirnya dimulai dari berjualan kacang goreng, menjadi pekebun sayur kecil-kecilan, menjadi pelayan kedai dan pekerjaan lainnya yang bisa ia kerjakan. Dari kerja kerasnya tersebut Tjong A Fie mulai mendapatkan perhatian dari golongan bangsanya hingga ke Pemerintah Belanda yang mengakui peranan dan tenaganya yang penting. Apapun pekerjaan yang diperintahkan Belanda selalu dikerjakan dengan baik. Ia seorang yang cepat kaki, ringan tangan sehingga rezeki datang menghampirinya terus menerus seperti hujan lebat.

Hingga saat ini keturunan Tjong A Fie masih ada. Museum ini pun dirawat oleh keturunannya. Demikianlah singkat cerita perjalanan Tjong A Fie. Benda-benda sejarah yang berada di museum ada yang masih asli dan ada yang tidak. Tidak banyak peninggalannya di museum.

20170423_094749

Lukisan MCA 4

Tjong A Fie

Lukisan MCA 3

Anak Tjong A Fie

20170423_100008

Pohon Keluarga Tjong A Fie

Masih di lingkungan yang sama tidak jauh dari Museum. Ada Masjid Raya Al-Mashun yang terkenal di Kota Medan merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan Sultan Deli yang dibangun pada tahun 1906 oleh Sultan Me’moen Al-Rasjid Perkasa Alamsyah dan dipergunakan pertama kali pada tanggal 19 September 1909 sebagai ibadah masyarakat muslim.

Pas banget momentnya pada Hari Jumat. Akhirnya aku dan keluarga istirahat sejenak sambil menunggu waktu Shalat. Masjid Raya Al-Mashun, masjid bergaya bangunan khas Melayu dengan ornamen warna hijau yang menyegarkan mata, memiliki tiga kubah dan pelataran Masjid yang luas. Untuk dapat memasuki Masjid, pengunjung wajib menulis buku tamu dan mengenakan kerudung. Jika yang tidak berkerudung maka akan dipinjamkan. Bagian dalam Masjid terdapat Al-Quran berukuran besar, dinding langit Masjid terdapat tulisan Arab, dinding bangunan dalam memiliki perpaduan warna cokelat dan krem, memiliki mimbar khas Melayu serta bagian belakangnya terdapat Makam.

20170423_112853

Al-Quran

Bangunan masjid 2

Dinding Langit Masjid (*Zoom aAgar Terlihat Tulisan Arabnya)

Banguan masjid

Bangunan masjid 3

Sambil menunggu Shalat Jumat, aku dan keluarga mengganjal perut yang sudah kelaparan dengan camilan yang dijajakan di depan Masjid. Ada gorengan, sate kerang, mie aceh dan lainnya. Kalo di Medan aku paling suka sama sate kerang. Usai menunaikan Shalat Jumat, saatnya mengisi perut dengan makanan yang lain. Dari sini kulineran dimulai (—Bersambung—).

***Cerita dalam tulisan tersebut terjadi bulan April 2017 dan baru dituliskan pada hari ini. Sekarang, Aa dan Kak Tika sudah resmi menikah pada bulan Agustus 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kategori:Sumatera Utara, Travelogs

Tagged as:

3 replies »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s