Jakarta

BERMAIN KE KOTA PLAT ‘B’ (EPS. 1)

Hai plat B. “Tahu enggak kamu kenapa Jakarta platnya B?”  B itu artinya Batavia, sebutan untuk Kota Jakarta tempo doeloe. Aku ngarang sendiri sih tapi masuk akal lah. Ngomong-ngomong tempo doeloe, ada tempat wisata dimana kita bisa tahu Jakarta ini dulu seperti apa. Yap, Kota Tua merupakan tempat wisata yang menyajikan sejarah mengenai Batavia melalui peninggalannya.  Terdapat bangunan kuno di sekeliling kawasan ini.

Ada Museum Fatahillah, Kantor Pos dan Café Batavia. Pengunjung dapat menikmati Kota Tua dengan berjalan kaki atau menggunakan jasa penyewaan sepeda tempo doeloe (re: sepeda ontel) dan berfoto dengan orang yang memakai pakaian unik berdiri layaknya manekin. Hhmmm aku dibuat penasaran sama orang bergaya manekin itu ada yang bisa terbang dengan memegang satu tongkat, ada yang bergaya jatuh tapi enggak jatuh dan gaya lainnya. “Apakah itu magic atau kreativitas?”

WhatsApp Image 2018-01-16 at 11.32.27 AM

Museum Fatahillah

WhatsApp Image 2018-01-16 at 11.12.58 AM

WhatsApp Image 2018-01-16 at 11.12.58 AM(3)

Ada yang menjadi sorotanku di Museum Fatahillah yaitu adanya penjara bawah tanah. Penjara tersebut digunakan untuk tahanan bukan bagi orang-orang yang diadili tetapi orang yang menunggu proses peradilan (re: menunggu keputusan Hakim). Pada abad 17 dan 18 ada beberapa bentuk hukuman yaitu hukuman mati, hukuman siksa (seperti dirantai, kerja paksa), hukuman denda dan hukuman pengasingan. Tetapi hingga abad ke 19 tidak ada hukuman melainkan yang tinggal lama di tahanan hanya dua kelompok yakni budak-budak yang dikirim oleh majikan mereka karena pelanggaran yang seringkali bersifat sepele dan orang-orang yang disandera karena belum melunasi hutangnya. Ada juga orang yang memilih tinggal di penjara saja dengan membayar biaya tingga kepada sipir. “Kok ada yang orang macam itu kenapa enggak tinggal di Hotel aja dibanding di Penjara?” heran aku juga.

WhatsApp Image 2018-01-16 at 11.12.59 AM(2)

Ini salah satu tahanannya. Tahanan di hatiku eaaa…

WhatsApp Image 2018-01-16 at 11.12.59 AM(3)

Gambaran penjara di Museum Fatahilah

Pejuang yang pernah ditawan sebagai budak belian pedagang Pleter Cnoll saat itu ialah Untung Suropati yang berhasil meloloskan diri dari penjara bawah tanah pada tahun 1670. Untung Suropati memberontak dan melawan orang Belanda. Ia terlibat dalam pembunuhan Captain Tack pada tahun 1686 di Keraton Kartosuro dan ia mempertahankan diri di kerajaan kecil di daerah Pasuruan sampai meninggal dunia pada tahun 1706. Tahun 1630 Pangeran Diponegoro (Pahlawan Perang 1825-1830) ditahan hampir satu bulan di tingkat dua dalam gedung sayap sebelah timur setelah ditangkap di Magelang karena berkhianat sebelum pengasingannya ke Menado.

Masih di Museum Fatahillah, terdapat Patung Hermes yang berdiri bak penari memegang sebuah tongkat bersayap. Dalam mitologi Yunani, Hermes adalah anak Dewa Zeus. Ia merupakan dewa kerumunan orang perdagangan, penemuan baru, atlet serta pelindung para pejalan kaki. Hermes ditampilkan dalam posisi sedang berlari bertumpu pada satu kaki bersayapnya yang melambangkan kecepatan sambil memegang tongkat bersayap berlilitkan dua ekor ular.

WhatsApp Image 2018-01-16 at 11.12.58 AM(4)

WhatsApp Image 2018-01-16 at 11.12.59 AM(1)

Patung Hermes yang terbuat dari perunggu adalah patung asli yang semula terpasang di sisi Selatan Jembatan Harmoni sejak awal abad 20 pada masa pemerintahan Hindia Belanda di Batavia. Tahun 1999 terjadi perusakan yang mengakibatkan bagian kaki dan atas patung harus diperbaiki. Demi terjaganya cagar budaya ini maka dibuat duplikatnya dan dipasang di tempat semula (Jembatan Harmoni). Sedangkan patung asli dipasang di Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah).

Sekitaran Kota Tua, bagi pengunjung yang mau menikmati café tua yang hits disini  bisa mampir di Café Batavia. Café ini selalu ramai pengunjung. Terlihat dari kejauhan, bangunan Café Batavia unik dengan interior tempo doeloe menjadi daya tarik pengunjung. Tapi sayang aku enggak masuk ke dalamnya hanya sekedar melihat dari luar karena si mantan pacarku ini rewel mungkin karena lelah.

WhatsApp Image 2018-01-16 at 11.12.58 AM(1)

Kota Tua yang tak mengenal hari. Tua tapi tetap berdiri hingga sekarang. Hari apapun tempat wisata ini tidak sepi pengunjung. Bagi keluarga, sahabat, pacar maupun gebetan tempat ini cocok untuk menghabiskan akhir pekan bersama orang terkasih.

Kategori:Jakarta, Travelogs

12 replies »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s